Langkah Juventus di Liga Champions 2025-2026 resmi terhenti. Harapan besar publik Turin untuk melihat Si Nyonya Tua kembali berjaya di pentas Eropa harus pupus secara dramatis setelah disingkirkan oleh Galatasaray dengan agregat 5-7.

Kekalahan tersebut terasa semakin menyakitkan karena terjadi di hadapan pendukung sendiri di Allianz Stadium, Kamis (26/2/2026) WIB. Dalam laga leg kedua itu, pasukan asuhan Luciano Spalletti sebenarnya tampil luar biasa di waktu normal.

Bangkit, Lalu Runtuh di Extra Time

Juventus memulai pertandingan dengan misi berat. Tertinggal agregat dari leg pertama, mereka dituntut tampil agresif sejak menit awal. Hasilnya terlihat nyata. Permainan cepat dan pressing tinggi membuat Galatasaray kewalahan.

Tiga gol sukses dicetak selama 90 menit waktu normal. Skor 3-0 membuat agregat berubah menjadi 5-5. Stadion bergemuruh, harapan kembali membuncah. Juventus tampak berada di jalur yang tepat untuk melakukan remontada yang akan dikenang dalam sejarah klub.

Namun, sepak bola sering kali kejam.

Karena agregat imbang, pertandingan dilanjutkan ke babak extra time. Alih-alih mempertahankan momentum, Juventus justru kehilangan fokus di momen krusial. Dua gol telat dari Galatasaray membuyarkan semuanya. Agregat berubah menjadi 5-7 dan memastikan langkah wakil Italia itu terhenti.

Kegagalan ini memperpanjang puasa prestasi Juventus di Eropa dan menambah tekanan terhadap kursi kepelatihan Spalletti.

Performa Domestik Ikut Disorot

Tersingkir dari Liga Champions sebenarnya bukan satu-satunya masalah. Di kompetisi domestik, performa Juventus musim ini juga jauh dari kata konsisten.

Di klasemen sementara Liga Italia 2025-2026, I Bianconeri tercecer di peringkat kelima. Mereka terpaut 18 poin dari rival abadi, Inter Milan, yang nyaman di puncak klasemen.

Dengan hanya 12 pertandingan tersisa, selisih poin tersebut terasa sangat sulit dikejar. Secara realistis, peluang meraih Scudetto sangat tipis. Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa Juventus bisa saja menutup musim tanpa satu pun trofi.

Kondisi tersebut memicu pertanyaan besar: apakah manajemen masih percaya kepada Spalletti?

Giorgio Chiellini Tegaskan Dukungan Penuh

Menjawab berbagai spekulasi yang beredar, Direktur Juventus, Giorgio Chiellini, akhirnya angkat bicara. Legenda klub itu memastikan bahwa posisi Spalletti tidak dalam ancaman.

Menurut Chiellini, tidak pernah ada keraguan sedikit pun terkait masa depan sang pelatih. Bahkan, manajemen saat ini tengah merampungkan detail kontrak baru untuk juru taktik berusia 66 tahun tersebut.

“Tidak pernah ada keraguan tentang masa depan pelatih Juventus, tentang masa depan Luciano,” ujar Chiellini.

Ia menegaskan bahwa Spalletti selalu menjadi prioritas klub dan tidak pernah diragukan komitmennya dalam membangun proyek jangka panjang di Turin.

Pernyataan ini jelas menjadi angin segar bagi Spalletti, sekaligus menunjukkan bahwa manajemen tidak ingin mengambil keputusan emosional akibat satu kegagalan di Eropa.

Proyek Jangka Panjang dan Jalur Pertumbuhan

Chiellini juga meminta para pendukung untuk tetap percaya kepada tim dan pelatih. Menurutnya, Juventus saat ini sedang berada dalam jalur pertumbuhan yang positif, meski hasil akhir belum sepenuhnya sesuai harapan.

Ia menekankan bahwa dalam proses membangun kembali kejayaan, hambatan dan hasil negatif adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah konsistensi dalam proyek dan keyakinan terhadap fondasi tim.

“Tim ini sudah ada dan telah membuktikannya. Ini adalah jalur pertumbuhan yang terus kami lanjutkan meskipun ada hambatan dan rintangan,” tegas mantan bek Timnas Italia tersebut.

Dukungan terbuka dari seorang figur sebesar Chiellini mengindikasikan bahwa Juventus tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu, yakni terlalu cepat mengganti pelatih saat menghadapi tekanan.

Risiko Musim Nirgelar

Meski demikian, realitas tetap tidak bisa diabaikan. Dengan tersingkir dari Liga Champions dan posisi yang kurang menguntungkan di Serie A, Juventus menghadapi ancaman musim nirgelar.

Bagi klub sebesar Juventus, satu musim tanpa trofi bukan sekadar kegagalan biasa, melainkan pukulan terhadap reputasi dan ambisi mereka sebagai raksasa Eropa.

Namun, mempertahankan Spalletti bisa dibaca sebagai langkah strategis. Manajemen tampaknya memilih stabilitas Tuna55 dibandingkan perubahan drastis. Mereka percaya bahwa fondasi tim saat ini hanya membutuhkan waktu untuk matang.

Keputusan ini tentu mengandung risiko. Jika musim depan kembali berjalan buruk, tekanan terhadap Spalletti akan berlipat ganda. Namun jika proyek ini berhasil, Juventus bisa menuai hasil besar dalam jangka panjang.

Dipertahankan, Bukan Ditendang

Jawabannya kini sudah jelas. Luciano Spalletti tidak akan ditendang. Ia justru dipertahankan dan bahkan berpeluang mendapat kontrak baru.

Keputusan tersebut menunjukkan arah kebijakan Juventus: membangun ulang kejayaan dengan kesabaran, bukan kepanikan. Di tengah badai kritik dan hasil mengecewakan, manajemen memilih berdiri di belakang pelatihnya.

Kini, fokus Juventus sepenuhnya tertuju pada sisa pertandingan Liga Italia. Meski peluang juara tipis, setiap laga menjadi krusial untuk menjaga harga diri klub dan mengamankan posisi terbaik di akhir musim.

Apakah keputusan ini akan menjadi fondasi kebangkitan Si Nyonya Tua? Ataukah justru awal dari tekanan yang lebih besar?

Waktu yang akan menjawabnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *