Keputusan pelatih Timnas Italia, Gennaro Gattuso, untuk tetap mempertahankan Alessandro Bastoni di skuad Azzurri menjadi sorotan publik sepak bola Eropa. Hal ini terjadi setelah bek andalan Inter Milan tersebut terlibat kontroversi dalam laga pekan ke-25 Serie A 2025/2026 saat menghadapi Juventus. Insiden itu memicu perdebatan panas di kalangan penggemar, media, hingga pengamat sepak bola Italia.

Alessandro Bastoni Diyakini Melakukan Aksi Diving

Dalam pertandingan bertajuk Derby d’Italia tersebut, Bastoni dinilai melakukan aksi diving saat berduel dengan Pierre Kalulu. Kejadian itu berujung kartu kuning kedua bagi Kalulu, yang otomatis membuat Juventus harus bermain dengan sepuluh pemain. Situasi semakin memanas ketika Bastoni merayakan keputusan wasit secara emosional di hadapan publik San Siro. Banyak pihak menganggap selebrasi tersebut tidak sportif dan memperkeruh tensi pertandingan.

Gelombang kritik pun tak terelakkan. Sejumlah fans dan analis sepak bola Italia menilai tindakan Bastoni mencoreng citra fair play. Bahkan, sebagian suara menuntut agar sang bek dicoret dari skuad Italy national team sebagai bentuk sanksi moral. Tekanan publik semakin kuat setelah media olahraga ternama seperti Gazzetta dello Sport dan Corriere dello Sport menyoroti kontroversi tersebut dalam laporan utama mereka.

Meski demikian, Gattuso menunjukkan ketegasan sikap. Pelatih berkarakter keras itu dilaporkan tidak terpengaruh oleh tekanan opini publik. Ia menegaskan bahwa keputusan pemanggilan pemain didasarkan pada kebutuhan taktis dan performa di lapangan, bukan pada kontroversi emosional yang terjadi di level klub. Bagi Gattuso, Bastoni tetap merupakan bagian penting dari rencana jangka panjang tim nasional.

Alasan Gennaro Gattuso Pertahankan Alessandro Bastoni

Secara teknis, alasan Gattuso cukup jelas. Bastoni adalah bek kiri dalam sistem tiga bek yang sering digunakan Italia. Ia dikenal memiliki kemampuan membaca permainan dengan baik, distribusi bola akurat, serta ketenangan dalam membangun serangan dari lini belakang. Kombinasi atribut tersebut menjadikannya sulit tergantikan, terutama ketika tim membutuhkan bek modern yang mampu berperan sebagai playmaker dari belakang.

Selain itu, Italia tengah menghadapi momen krusial dalam kalender internasional. Azzurri dijadwalkan bertemu Northern Ireland national football team pada semifinal play-off Piala Dunia tanggal 26 Maret. Pertandingan ini sangat menentukan karena kemenangan akan membawa mereka selangkah lebih dekat ke putaran final. Jika berhasil lolos, Italia akan menghadapi pemenang duel antara Wales national football team dan Bosnia and Herzegovina national football team di partai final play-off.

Dalam konteks laga berintensitas tinggi seperti itu, pengalaman dan kualitas pemain menjadi faktor vital. Bastoni, yang sudah terbiasa tampil di pertandingan besar bersama klub maupun tim nasional, dianggap memiliki mentalitas yang dibutuhkan. Gattuso menilai mencoret pemain karena tekanan publik justru berpotensi mengganggu stabilitas tim dan merusak persiapan menjelang laga penting.

Keputusan mempertahankan Bastoni sekaligus menunjukkan filosofi kepelatihan Gattuso yang tegas dan profesional. Ia ingin menegaskan bahwa tim nasional harus berdiri di atas prinsip objektivitas dan performa, bukan opini sesaat. Selama Bastoni berada dalam kondisi fisik prima dan tampil konsisten, posisinya sebagai pilar lini belakang Italia tampaknya tetap aman.

Sikap ini juga menjadi pesan kuat bagi skuad Azzurri: disiplin dan kualitas di lapangan tetap menjadi tolok ukur utama. Kontroversi boleh saja terjadi, tetapi kontribusi nyata untuk tim adalah penilaian yang paling menentukan. Tuna55


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *