Empat Debutan Warnai Sentuhan Arbeloa di Real Madrid – Alvaro Arbeloa
menjalani awal yang menjanjikan sebagai pelatih interim Real Madrid.
Dalam sembilan pertandingan pertamanya, ia mencatat lima kemenangan
beruntun di La Liga dan sukses membawa Los Blancos ke puncak klasemen
dengan keunggulan dua poin atas Barcelona. Momentum positif itu
semakin terasa setelah kemenangan 1-0 atas Benfica pada leg pertama
play-off 16 besar Liga Champions. Hasil tersebut diraih di kandang lawan
sekaligus melawan tim yang dilatih mentornya sendiri, Jose Mourinho.
Namun keberhasilan Arbeloa tidak hanya tercermin dari hasil pertandingan,
melainkan juga dari arah kepemimpinan
yang mulai terlihat jelas di Santiago Bernabeu.
Berani Promosikan Talenta Akademi
Dalam sembilan laga awalnya, Arbeloa telah memberikan debut kepada empat
pemain akademi Real Madrid, La Fabrica. Langkah ini menjadi sinyal kuat
bahwa ia tidak sekadar fokus pada hasil jangka pendek,
tetapi juga membangun fondasi masa depan klub.
Keputusan paling berani terjadi di Estadio da Luz saat menghadapi Benfica.
Pada menit 90+4 dalam laga panas tersebut, ia memasukkan Thiago Pitarch
yang baru berusia 18 tahun. Situasi saat itu jauh dari ideal atmosfer memanas,
pertandingan diwarnai insiden rasisme, serta kartu merah untuk Jose Mourinho.
Meski begitu, Pitarch tetap tampil tenang dan
meninggalkan kesan positif dalam debutnya.
Sebelumnya, Arbeloa sudah lebih dulu memberi kesempatan debut Liga
Champions kepada Jorge Cestero (19 tahun) saat menghadapi Benfica
dan Daniel Mesonero (20 tahun) ketika melawan AS Monaco.
Konsistensi ini menunjukkan bahwa kebijakannya bukan keputusan sesaat,
melainkan bagian dari strategi yang dirancang matang.
Empat Debutan, Filosofi yang Dibangun Sejak Lama
Kepercayaan Arbeloa terhadap pemain muda bukanlah langkah spontan.
Ia telah lama terlibat dalam sistem pembinaan usia muda Real Madrid sejak 2018.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami secara mendalam kultur klub,
metodologi latihan, serta karakter para talenta La Fabrica.
Jorge Cestero bahkan kembali mendapat menit bermain saat laga tandang
melawan Valencia di Mestalla. Sementara itu, Cesar Palacios (21 tahun)
dimainkan ketika Real Madrid kalah 2-3 dari Albacete di Copa del Rey.
Meski hasil tidak selalu sempurna, keberanian memainkan pemain muda
tetap menjadi ciri khas pendekatan Arbeloa.
Sebelum dipercaya menangani tim utama menggantikan Xabi Alonso,
Arbeloa menjabat sebagai pelatih Real Madrid Castilla.
Posisi itu membuatnya mengenal detail kemampuan teknis dan mental para
pemain muda, sehingga ia yakin mereka siap bersaing di level tertinggi.
Kini, sentuhan tersebut mulai terasa di skuad utama. Arbeloa bukan hanya
menjaga Real Madrid tetap kompetitif di tengah tekanan kompetisi elite Eropa,
tetapi juga menanamkan fondasi regenerasi yang berpotensi
menentukan masa depan klub Tuna55 dalam jangka panjang.

Leave a Reply