Dugaan Kasus Kekerasan dan Pelecehan Seksual oleh Pelatih Panjat Tebing – Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) menyampaikan keprihatinan mendalam atas pemberitaan dugaan insiden kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan pemusatan latihan nasional cabang olahraga panjat tebing. Isu ini mencuat dan menjadi perhatian publik karena menyangkut keselamatan serta martabat atlet yang selama ini berjuang mengharumkan nama bangsa di berbagai ajang internasional.
NOC Indonesia Tegaskan Nol Toleransi terhadap Kekerasan di Lingkungan Olahraga
Pernyataan resmi tersebut disampaikan melalui Safeguarding Officer NOC Indonesia, Tabitha Sumendap. Dalam keterangannya, Tabitha menegaskan bahwa organisasi olahraga tidak boleh menutup mata terhadap segala bentuk kekerasan, pelecehan, maupun intimidasi, terlebih jika terjadi di dalam ekosistem pembinaan atlet. Menurutnya, nilai-nilai Olimpiade yang dijunjung tinggi—respect, excellence, dan friendship—secara tegas menolak segala tindakan yang merendahkan harkat dan martabat manusia.
“Kami memandang isu ini sebagai persoalan yang sangat serius. Keselamatan, martabat, dan kesejahteraan atlet harus menjadi prioritas utama dalam setiap ekosistem olahraga,” ujar Tabitha dalam siaran resmi NOC Indonesia.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa NOC Indonesia tidak akan berkompromi terhadap praktik kekerasan dalam bentuk apa pun. Dalam konteks olahraga prestasi, relasi antara pelatih dan atlet memang kerap diwarnai kedekatan dan intensitas tinggi. Namun, relasi tersebut harus selalu berada dalam koridor profesionalisme dan etika. Setiap pelanggaran terhadap batas tersebut merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan yang diberikan oleh atlet dan keluarganya.
Program Safeguarding Jadi Garda Depan Perlindungan Atlet Nasional
Melalui Safeguarding Task Force, NOC Indonesia memastikan akan terus mengawal dan menghormati proses investigasi yang saat ini sedang berlangsung sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku. Organisasi tersebut menekankan pentingnya proses yang objektif, transparan, serta berpihak pada perlindungan dan pemulihan korban. Pendekatan ini penting agar keadilan tidak hanya ditegakkan, tetapi juga dirasakan oleh pihak yang terdampak.
Kasus dugaan kekerasan dan pelecehan seksual dalam dunia olahraga bukanlah isu yang bisa dianggap sepele. Selain berdampak secara fisik, tindakan tersebut dapat meninggalkan trauma psikologis jangka panjang yang memengaruhi performa dan masa depan atlet. Oleh sebab itu, penanganannya tidak cukup hanya berhenti pada aspek hukum, tetapi juga harus mencakup dukungan psikologis dan pemulihan yang komprehensif.
Sejak 2024, NOC Indonesia telah mengimplementasikan Program Safeguarding sebagai langkah preventif dan sistematis untuk menciptakan lingkungan olahraga yang aman. Program ini dirancang untuk membangun kesadaran seluruh pemangku kepentingan—mulai dari atlet, pelatih, ofisial, hingga pengurus federasi—tentang pentingnya perlindungan terhadap individu di dalam ekosistem olahraga.
Safeguarding tidak hanya berbicara soal penindakan ketika terjadi pelanggaran, tetapi juga pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan. NOC Indonesia telah mengirimkan surat resmi kepada seluruh National Federation anggota guna memastikan bahwa kebijakan safeguarding diterapkan secara konsisten dan terukur. Langkah ini menunjukkan keseriusan institusi dalam membangun budaya olahraga yang sehat dan aman.
“Safeguarding bukan sekadar program administratif, melainkan komitmen moral dan tanggung jawab institusional,” tegas Tabitha.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perlindungan atlet harus menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan olahraga. Prestasi tidak boleh dibangun di atas ketakutan, tekanan, atau praktik yang merugikan atlet secara fisik maupun mental. Sebaliknya, prestasi sejati lahir dari lingkungan yang mendukung, aman, dan menghormati hak setiap individu.
Dugaan insiden ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga nasional bahwa sistem pengawasan dan perlindungan harus terus diperkuat. Transparansi, akuntabilitas, serta keberanian untuk menindak tegas pelanggaran menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik.
Ke depan, NOC Indonesia berharap seluruh federasi olahraga dapat semakin proaktif dalam menerapkan prinsip safeguarding. Dengan demikian, setiap atlet Indonesia dapat berlatih dan bertanding tanpa rasa takut, serta fokus sepenuhnya pada pengembangan potensi dan pencapaian prestasi terbaik.
Komitmen tanpa kompromi terhadap perlindungan atlet bukan hanya bentuk kepatuhan terhadap nilai-nilai Olimpiade, tetapi juga investasi jangka panjang bagi masa depan olahraga Indonesia. Di atas segalanya, keselamatan dan martabat atlet harus selalu menjadi prioritas utama.

Leave a Reply